Posts

Image
Pagi itu aku dikejutkan oleh bacaan dalam beberapa rakaat yang ku dirikan. Tertegun akan makna bacaan yang bahkan sudah berulang kali ku lantunkan. Merapal kalimat yang sudah berada di luar kepala, mengalir dengan teramat lancar namun rasanya hambar. Ibadahku jauh dari kata khusuk, ampuni hamba ya Tuhan. Pada berdiri tegap ku di atas kedua kaki yang masih kuat menopang sempurna, ku buka dengan seruan takbir untuk-Mu, di sambung doa pembuka yang meskipun telah ku ketahui maknanya, namun ku abaikan sambil lalu. Sebegitu jauhkah aku dari-Mu? Ampuni hamba ya Tuhan. Aku sampai pada rakaat dimana aku memilih untuk membaca surah ke- 94.  Surah yang memiliki arti kelapangan, yang  hanya terdiri dari depalan ayat dan telah ku kuasai baik rangkaian huruf maupun tajwidnya. Surah itu begitu indah, namun terbacakan tanpa rasa oleh sang pendosa. Tertegun dan terdiam ku pada kedua ayat yang memiliki arti sama "Maka sesudah kesukaran itu ada kemudahan". Terulang untuk kali ...

Hanun #1

"Hai, saya HAGIA.. dan kamu…...." Bangku itu mengantarkanku untuk berjumpa denganmu. Kamu. Sosok pangeran tanpa jubah dan mahkotanya. Titisan dewa dengan pahatan sempurna di wajahnya. Mahakarya Tuhan yang dihadirkan khusus. Tepat di hadapanku! Tuan pemilik manik indah pekat dan teduh. Pemilik senyum ramah lagi tulus. Juga pemilik jabat hangat bersahabat nan halus. Mungkin aku terlalu larut dalam kisah yang  berusaha ku imajikan serta terlalu fokus menyesap cita rasa kopi dalam genggaman atau kamu yang begitu tenang hingga aku tak menyadari sedikitpun kamu datang? Entahlah. Sadarku diketuk olehmu. Oleh sapaan seseorang yang telah berdiri menjulang di dekatku. Menatapku dan... aku rasa aku terlalu percaya diri mengatakannya, aku merasa di perhatikan. Saat ku alihkan  pandanganku, disaat itu pula mata kita bertemu. Wahai tuan pemilik tatapan teduh, netra indah itu berhasil membuatku luluh. Mengunci pandang, mengalihkan atensiku dari rentetan huruf pada buku yan...

P E R I H A L

Perihal rasa yang entah bagaimana bisa hadir.  Aku mengaku kalah, aku menyerah. Kita tuntaskan saja, maksudku, aku tuntaskan saja. Aku telah purna menjadi prajurit yang berjuang sekaligus benteng untuk bertahan. Berjuang dan bertahan untuk menyelamatkan hati dari kehancuran. Dari retakan-retakan yang bahkan munculnya dari dalam. Dari tanya dan ketidakpastian yang membisikkan angan manis dan memupuk harapan. Sudikah kiranya kau membantu tuan? Meyakinkanku untuk menghapuskan ragu. Perihal duka yang kadang melintas.  Terima kasih karena kau hanya lewat. Jangan dulu mengetuk pintu, lanjutkanlah dulu perjalananmu. Berkelana dan sapalah mereka diluar sana, jangan aku. Maaf, aku tak ingin berteman denganmu. Jangankan berteman, berjumpa pun rasanya tak siap. Aku terlalu ciut untuk menghadapimu. Namun, bila tiba masanya kau harus singgah dan bertamu,  tolong kabari aku. Bunyikan dulu bel di depan rumahku dan tunggu disitu. Aku perlu menyiapkan obat. Barangkali hadirmu bersama...

Confession

Hari rabu, tanggal sepuluh bulan satu tahun dua ribu sembilan belas Bukan hari yang spesial, hanya hari pengakuan dosaku. (1) Aku mencuri. Mencuri pandang pada cantiknya kamu. Pada hari dimana kamu hadir dan aku dengan segala kebisuanku berusaha tetap fokus menyelami untaian kata dalam monitorku. Percayalah, itu sulit. Berat untuk menahan diri ini tidak menoleh dan melihatmu. Hari- hari  setelahnya, sakaku mulai goyah. Semua hal tentang kamu menarik perhatianku.  Lalu saka ku patah. Pertahananku kalah. Dan semua yang mengatas namakanmu telah menjadi bagian favoritku. Masa lalumu. Keluargamu. Impianmu. Pemikiranmu. Karyamu. Dan -mu lain yang terikat benang merah denganmu. Kini, aku dengan sangat berani menyelami manik indahmu, bukan hanya sekadar mencuri pandang. Aku memperhatikanmu dalam diam. (2) Aku cemburu. Pada dia yang kau beri perhatian penuh. Pada dia yang ada didekatmu kala kau butuh. Aku ingin itu aku. Namun, dengan kesadaran penuh aku tahu posisiku. Tid...

T I T I K (.)

Kamu tahu tidak, ada hari dimana aku merasa sangat gembira, tersenyum amat lebar nyaris sambil berlompat lompatan saat tak sengaja bertemu pandang denganmu?  Atau aku yang dengan strategi gerilya-ku memperhatikanmu yang sedang tenggelam dalam rutinitasmu?  Ada sedikit cemburuku disitu, maaf. Kamu begitu memusatkan perhatianmu padanya. Pada sesuatu yang tidak kau benci, kau mencintainya malah, tapi dia memisahkan kita, membuat kita berjarak. Pekerjaanmu. Pekerjaan kita. Tapi tak apa, melihat punggung atau bahkan mencium parfummu saja sudah membuatku bahagia. Paling tidak itu mengartikan kehadiranmu. Dan aku bahagia. Ya, sesederhana itu bahagiaku. Kamu ingat tidak, ada hari dimana kita saling menatap seakan mencari pembenaran akan pikiran dan perasaan yang kita miliki. Tatapan yang dalam dan menyelami. Tatapan sarat akan arti "Kamu, hanya aku yang memiliki". Ada tetes embun yang membasahi hati yang menjalar menghangatkan gumpalan daging di pipi. Dia merona, aku tersipu dan ...

Padamu, Aku Pernah

Image
Aku pernah semendamba itu padamu. Menghadirkanmu dalam rentetan doa paling syahdu di akhir sujudku. Selalu. Selalu menyelipkan namamu kala aku mengadu pada Tuhanku. Mungkin saja nama yang telah disandingkan disana adalah namamu dan namaku. Siapa yang tahu? Dan ya, selalu. Aku selalu meng-amin-i itu. Aku pernah seterpikat itu padamu. Berada pada jurang terdalam dan berdiam untuk waktu yang tak dapat ku tentukan. Mulai dari menjadikannya zona nyaman, hingga enggan untuk mencari jalan keluar. Bukan sesuatu yang mudah untuk kembali mendaki tebing curam disekelilingku. Butuh usaha lebih. Tergores. Terluka. Dan kembali jatuh. Ya. Aku pernah sedalam itu jatuh padamu. -Flaynn- Minggu, 4 November 2018, 2:25 AM
Image
Kau ingin tahu cara memperlakukan rindu? Baiklah, akan ku beri tahu : Kemarilah, Duduklah dengan tenang Namun, bergeserlah sedikit Beri bangku pada waktu Biarkan ia dengan nyamannya menunggu dan mengumpul rindu Kelak, tiba saatnya waktu tak lagi mampu "Kapan?" Tanyamu : Saat kau berhasil melupa atau takdir menuntunmu bertemu -Flaynn- 27 okt 2018