Posts

Adakalanya disuatu ketika kita hanya butuh untuk rehat. Berhenti menyesap gula dan mulai merasa ganjalan dahaga akibatnya. Tak butuh berlebih, sewajarnya saja. Tak perlu merasa begitu tersungkur oleh duka seolah hanya engkau yang punya rasa. Tak usah pula merasa sedemikian rupa dicintai hingga hati terlanjur tinggi.  Yang sedang-sedang saja. Setiap kita punya waktu. Setiap kita punya tempat. Setiap kita akan datang. Dan setiap kita akan pulang. Tak butuh rasa memiliki sedemikian posesif sebab semua hanya titipan. Bahkan raga rupawan yang kerap dibanggakan hanya sekadar pinjaman. Waktu. Harta. Adalah hasil sewa dengan bayaran dimanfaatkan. Diisi dengan amalan. Saat datang saatnya pulang. Semoga kita bersama bait doa yang dilangitkan di setiap sepertiga malam. -Flaynn- #Random 

Slice of Cake

Dia seorang penyendiri. Orang bilang dia berasal dari kasta tak tersentuh. Seorang pemikir yang menghabiskan waktunya hanya dengan buku dan musik lewat earpod  di telinga. Orang bilang dia anti sosial, tidak bisa dan tidak mau bergaul dengan yang lainnya. Dia irit kata, hanya berucap sesuai kebutuhan dan kepentingannya saja. Orang sekitar enggan menyapa dan bertanya padanya. Dia tipikal orang sombong, kata mereka.  Suatu ketika saya datang, menyapa dan bertanya kabar. Dia kawan lama sewaktu pendidikan. Seorang yang penuh antusias mendengarkan cerita. Seorang problem solver  bagaimanapun pelik masalahnya. Pencerita ulung dengan berbagai macam jenis suaranya. Itu dia di masa lalunya. Saya... sedikit dibuat terkejut akan perubahan sikapnya.  Suatu ketika saya datang lebih pagi dari biasanya. Saya orang baru di tempatnya bekerja. Bisa dikatakan dia senior saya. Beberapa senior lain terlihat bersantai dan beberapa berbincang sembari bersiap kerja. Dia datang, dan yan...

Amora

Nona Tak ada sapa sejak kali pertama kita jumpa Kamu hadir bersama tatap mata yang kulihat tanpa sengaja Pada kilat teduh netra indah milik puan nan jelita, nun jauh disana Saya hanyalah seonggok daging dengan jiwa pendosa Pemberontak gigih yang pantang putus asa Penyusup terlatih yang sengaja meninggalkan rasa Yang saya alamatkan untuk atma yang bergelora Amora; Bersahabat dan hiduplah bersama nona Selalulah ada dan jangan berubah fana Aku menyertaimu dalam doa -Flaynn-

Peace

Kemarin. Saat aruna menaungi loka, saat kita mengelilingi kota dengan sepeda motormu berdua, adalah saat dimana aku merasa kita bak dua garis sejajar. Di tarik sepanjang apapun akan terus berdampingan. Kalaupun tidak lagi sama panjang, paling tidak kita tetap seiring dan sejalan. Mungkin, sebelum jejak menjadi timpang, ada baiknya kita membangun titian dari ranting kita yang berkelindan-dari jemari kita yang bertautan. Hari ini. Saat baskara berpendar menghangatkan, adalah saat dimana kamu berhasil mengusir duka yang menggelayut mesra. Membuatnya tenggelam dan memudar, lalu sirna.  Saat surya mangkat dari singgasana, saat sinar jingga menyelimuti kota, adalah saat dimana aku mengingatmu sebagai penikmat senja pada ancala di seberang sana. Dan saat luna berbinar jelita, saat kamu mengajakku untuk lebih dekat melihatnya, ku titipkan teka teki rasaku padanya. Ku titahkan dia, untuk senantiasa memberimu fatwa. Esok. Saat candra kembali naik ke peraduan. Saat tiba masanya kita ...

Home

Sekali waktu aku mendengar. Ada yang dengan ikhlas berlelah. Biar dikungkung masalah, biar dibungkus gundah. Ada pula yang rela berpeluh. Walau hilang arah, walau asanya patah. Meski harus membelah ramainya lalu lintas atau mungkin membelah langit yang luasnya tak terbatas. Ada yang rela remuk tiap harus mengakhiri hari, karena ia tahu, setelah hari panjangnya terlewati, selalu ada tempat untuk kembali. Selalu ada peluk hangat pelepas gundah. Selalu ada tempat rebah yang menyatukan kembali asa yang patah. Selalu ada senyum ramah yang senantiasa merekah. Dan selalu ada kecup, yang menjadikannya kembali hidup. Rumah-yang bukan sekadar tempat untuk singgah. Namun tempat mengisi ulang semangat untuk kembali berjuang hingga kembali remuk di akhir hari. Tempat berbagi letih dan suntikan motivasi untuk kembali bangkit di esokan hari. Penyempurna yang separuh. Juga tempat bertumbuh dan kembali utuh. -Flaynn- 20-02-2020
Tolong untuk kamu tidak kembali datang. Walau hanya mengetuk, menyapa, lalu pulang. Sebab ketukmu meninggalkan kutuk. Untuk terus mengiangkan suaramu laksana itu melodi merdu. Lalu kamu pulang. Hilang. Sedang aku, asyik berdansa bersama bayang. -Flaynn-
Mari. Kita mengadu pada pantai Menyerap tenang dari gemeruh riak Mangikat angan pada riuhnya angin Terbang-Pudar-Hilang Lalu kita kembali ke ardi Mendaki Meniti tapak sendiri-sendiri -Flaynn- Medan, 7 Oktober 2019, 14:39